di balik awan itu
ia melepaskan dirinya
lalu menumpang angin
memutari danau yang berisi air matanya
yang membiaskan dirinya
yang memantulkan dunianya
di utara danau itu
ia letakkan seluruh mimpinya
mimpi-mimpi yang berserak
dan lupa ia sapu lalu dibakar habis
di tanjung ingatan itu
ia melepaskan sayap-sayapnya
kesedihan dan kesalahan
membiarkan dirinya terjun bebas
kembali berpijak dengan sisa-sisa dirinya
kata mereka
bahagia
takssas
apa yang lebih dalam?
laut atau samudera?
apa yang lebih mengenaskan?
terumbu karang yang lupa usia
atau ikan-ikan yatim piatu?
apa yang lebih menyedihkan?
kuda laut yang lupa jalan pulang
atau kepiting yang kehilangan rumahnya?
apa yang lebih kesepian?
paus atau pelaut yang hilang di lautan?
apa yang lebih kelam?
kenangan atau perasaanmu?
takssas
semalam
kepalanya dikecup cahaya bulan
bahunya yang sedikit bergetar direngkuh angin dari balik awan-awan
sunyi membungkus dirinya
menjadi tameng dari riuh rendah keramaian pasar dan jalan raya
lalu hening menghantarkan lagu
menjadikan dirinya irama paling syahdu dari seluruh negeri langit malam
ia pemiliknya
dari seluruh keseluruhan
dirinya sendiri
takssas
langit malan dan orionnya
al-mulk dan tenangnya
kami, bersampingan
kepala-kepala yang mengadah
menjelajah langit tanpa menapakinya
berburu rasi bersama angin
kami, bersisian
riuh rendah bising percakapan
saut menyaut kalimat panggilan
ingar bingar bisikan serangga malam
membicarakan rahasia-rahasia
malam-malam yang setelahnya,
dikenang
takssas
cemas
perasaan-perasaan ini nyatanya sangat tidak terperkirakan akan hadir dalam hidup. sangat tidak diinginkan juga. sangat merugikan seluruh tubuh dan seluruh isi kepala.
rasanya seperti seluruhnya harus dijalankan bersamaan, serempak, sejalan, meskipun seluruh tubuh dan kepala menolak untuk diajak berjajar berjalan bersama. terlalu riskan. tapi akhirnya tetap dilakukan juga. meski pada akhirnya perasaan perasaan ini semakin menjadi dan di luar kendali.
tubuh kehilangan tenaganya untuk tetap berdiri. kepala kehilangan kewarasannya untuk bertahan melawan. seluruhnya serentak menolak bangun. penuh sesak, kesal, lelah, pusing, dan si tokoh utama, cemas. seluruhnya diaduk dalam kepala dengan si cemas mendominasi sebagai nahkoda yang tidak punya arah.
Kepala-kepala itu muncul dibalik senja keunguan sabtu lalu. mecari-cari cara supaya bisa turun menjejak tanah. tapi mereka lupa hari ini hujan sedang tidak turun. kepala-kepala itu lantas tertunduk lalu kembali pada tubuh masing-masing.
esoknya kepala-kepala itu kembali muncul pada sela-sela cahaya matahari pagi. dengan harap bisa ikut turun selarasnya dengan cahaya mentari. sayangnya lagi, kabut melibatkan diri tanpa diminta. mengaburkan cahaya yang seharusnya turun menghangatkan pagi. lagi-lagi kepala-kepala itu harus kembali pada tubuhnya. melupakan acara menjejak tanah itu.
hari ini seperti biasa kepala-kepala itu lagi-lagi menelisik tak sabar dari tubuhnya. harap-harap cemas gagal lagi seperti kemarin. semoga saja tidak, bisiknya. ah, nyatanya takdir kali memang sedang ingin bermain-main dengan mereka. untuk kesekian kalinya, mereka gagal menjejak tanah. bukan. bukan karena hujan yang tak turun atau kabut yang mendadak ikut campur menghalang-halangi. melainkan karena langit menyapu bersih dirinya. tidak ada yang tahu dibawa kemana matahari, awan-awan, hujan, seluruhnya ia sembunyikan entah dimana.
maka dengan begitu kepala-kepala itu kembali ketubuhnya, menyatu dan mulai melupakan keinginan akan menjejakkan diri pada tanah. bertemu sang pujaan hati, bumi. serta tujuan utamanya, memelukku.
takssas
pada beberapa waktu atau kesempatan yang membunuhku bukan lagi pedang, peluru, atau racun.
melainkan sebuah kalimat yang tersusun pada baris-baris pendek
dengan kata-kata yang absurd
dengan makna yang entah bisa seluas apa
yang mampu membuat ku bingung atas apa yang ku rasakan setelah membacanya
yang membuatku bertanya tentang “makna”
“makna” yang sesuai kataku, entah bisa seluas apa
meskipun begitu tetap ku pertanyakan
arti, maksud, tujuan
lalu mati karena gila akan makna-makna yang entah apa
yang entah apa tapi sungguh mampu menusuk lebih tajam dari pedang manapun
yang entah apa tapi sungguh lebih panas dan lebih cepat dari peluru manapun
yang entah apa tapi sungguh mematikanmu lebih cepat dari racun manapun
“some poetry kills you”
-takssas









