1.5M ratings
277k ratings

See, that’s what the app is perfect for.

Sounds perfect Wahhhh, I don’t wanna
image

di balik awan itu

ia melepaskan dirinya

lalu menumpang angin

memutari danau yang berisi air matanya

yang membiaskan dirinya

yang memantulkan dunianya


di utara danau itu

ia letakkan seluruh mimpinya

mimpi-mimpi yang berserak

dan lupa ia sapu lalu dibakar habis


di tanjung ingatan itu

ia melepaskan sayap-sayapnya

kesedihan dan kesalahan

membiarkan dirinya terjun bebas


kembali berpijak dengan sisa-sisa dirinya

kata mereka

bahagia



takssas

sajak puisi
image

apa yang lebih dalam?

laut atau samudera?


apa yang lebih mengenaskan?

terumbu karang yang lupa usia

atau ikan-ikan yatim piatu?


apa yang lebih menyedihkan?

kuda laut yang lupa jalan pulang

atau kepiting yang kehilangan rumahnya?


apa yang lebih kesepian?

paus atau pelaut yang hilang di lautan?


apa yang lebih kelam?

kenangan atau perasaanmu?


takssas

puisi sajak
image

semalam

kepalanya dikecup cahaya bulan

bahunya yang sedikit bergetar direngkuh angin dari balik awan-awan


sunyi membungkus dirinya

menjadi tameng dari riuh rendah keramaian pasar dan jalan raya


lalu hening menghantarkan lagu

menjadikan dirinya irama paling syahdu dari seluruh negeri langit malam


ia pemiliknya

dari seluruh keseluruhan

dirinya sendiri


takssas

puisi sajak july
image

langit malan dan orionnya

al-mulk dan tenangnya

kami, bersampingan


kepala-kepala yang mengadah

menjelajah langit tanpa menapakinya

berburu rasi bersama angin

kami, bersisian


riuh rendah bising percakapan

saut menyaut kalimat panggilan

ingar bingar bisikan serangga malam

membicarakan rahasia-rahasia


malam-malam yang setelahnya,

dikenang



takssas

puisi sajak july

cemas

perasaan-perasaan ini nyatanya sangat tidak terperkirakan akan hadir dalam hidup. sangat tidak diinginkan juga. sangat merugikan seluruh tubuh dan seluruh isi kepala.

rasanya seperti seluruhnya harus dijalankan bersamaan, serempak, sejalan, meskipun seluruh tubuh dan kepala menolak untuk diajak berjajar berjalan bersama. terlalu riskan. tapi akhirnya tetap dilakukan juga. meski pada akhirnya perasaan perasaan ini semakin menjadi dan di luar kendali.

tubuh kehilangan tenaganya untuk tetap berdiri. kepala kehilangan kewarasannya untuk bertahan melawan. seluruhnya serentak menolak bangun. penuh sesak, kesal, lelah, pusing, dan si tokoh utama, cemas. seluruhnya diaduk dalam kepala dengan si cemas mendominasi sebagai nahkoda yang tidak punya arah.

Kepala-kepala itu muncul dibalik senja keunguan sabtu lalu. mecari-cari cara supaya bisa turun menjejak tanah. tapi mereka lupa hari ini hujan sedang tidak turun. kepala-kepala itu lantas tertunduk lalu kembali pada tubuh masing-masing.

esoknya kepala-kepala itu kembali muncul pada sela-sela cahaya matahari pagi. dengan harap bisa ikut turun selarasnya dengan cahaya mentari. sayangnya lagi, kabut melibatkan diri tanpa diminta. mengaburkan cahaya yang seharusnya turun menghangatkan pagi. lagi-lagi kepala-kepala itu harus kembali pada tubuhnya. melupakan acara menjejak tanah itu.

hari ini seperti biasa kepala-kepala itu lagi-lagi menelisik tak sabar dari tubuhnya. harap-harap cemas gagal lagi seperti kemarin. semoga saja tidak, bisiknya. ah, nyatanya takdir kali memang sedang ingin bermain-main dengan mereka. untuk kesekian kalinya, mereka gagal menjejak tanah. bukan. bukan karena hujan yang tak turun atau kabut yang mendadak ikut campur menghalang-halangi. melainkan karena langit menyapu bersih dirinya. tidak ada yang tahu dibawa kemana matahari, awan-awan, hujan, seluruhnya ia sembunyikan entah dimana.

maka dengan begitu kepala-kepala itu kembali ketubuhnya, menyatu dan mulai melupakan keinginan akan menjejakkan diri pada tanah. bertemu sang pujaan hati, bumi. serta tujuan utamanya, memelukku.



takssas

pada beberapa waktu atau kesempatan yang membunuhku bukan lagi pedang, peluru, atau racun.

melainkan sebuah kalimat yang tersusun pada baris-baris pendek

dengan kata-kata yang absurd 

dengan makna yang entah bisa seluas apa

yang mampu membuat ku bingung atas apa yang ku rasakan setelah membacanya

yang membuatku bertanya tentang “makna”

“makna” yang sesuai kataku, entah bisa seluas apa

meskipun begitu tetap ku pertanyakan 

arti, maksud, tujuan

lalu mati karena gila akan makna-makna yang entah apa

yang entah apa tapi sungguh mampu menusuk lebih tajam dari pedang manapun

yang entah apa tapi sungguh lebih panas dan lebih cepat dari peluru manapun

yang entah apa tapi sungguh mematikanmu lebih cepat dari racun manapun

“some poetry kills you”

-takssas